SMP UMP Juara FTBI, Bahasa Jawa Berjaya di Tengah Era Digital
PURWOKERTO — Kecintaan terhadap budaya lokal tetap tumbuh di tengah pesatnya modernisasi dan digitalisasi. Hal itu ditunjukkan siswa SMP Universitas Muhammadiyah Purwokerto (SMP UMP) melalui keikutsertaan dalam Festival Tunas Bahasa Ibu (FTBI) tingkat kabupaten.
Kegiatan tersebut berlangsung di SMK Mulya Husada, Rabu (9/9/2026). Sebanyak lima siswa SMP UMP mengikuti sejumlah cabang lomba dalam ajang yang menjadi ruang pelestarian bahasa dan seni daerah tersebut.
FTBI diselenggarakan melalui kolaborasi satuan pendidikan, Dinas Pendidikan Kabupaten Banyumas, dan Balai Bahasa Jawa Tengah. Ajang ini tidak hanya menjadi arena kompetisi, tetapi juga memberi ruang bagi peserta didik untuk mengembangkan kemampuan bahasa, seni, dan kepekaan terhadap budaya daerah.
Dalam kegiatan tersebut, para siswa mengasah kemampuan melalui olah seni, kehalusan rasa, serta harmonisasi bahasa. Proses itu turut melatih kepekaan dan kecakapan sosial peserta didik.
Semangat tersebut sejalan dengan ajaran Rasulullah SAW mengenai pentingnya menuntut ilmu dan mengembangkan potensi kebaikan. Rasulullah bersabda, “Barangsiapa yang menempuh jalan untuk mencari ilmu, maka Allah akan memudahkan baginya jalan menuju surga.” (HR. Muslim).
Nilai tersebut menjadi bagian dari upaya membentuk karakter Islami sekaligus menumbuhkan kepekaan budaya. Dengan demikian, pendidikan tidak hanya diarahkan pada kecerdasan intelektual, tetapi juga pembentukan pribadi yang memiliki kehalusan budi.
Pada FTBI 2026, SMP UMP mengirimkan lima siswa untuk mengikuti tiga cabang lomba. Mereka adalah Ibrahim Qaiser El A pada cabang Sesorah, Wafa Mazaya Nabila dan Rayhaan Fauzan Pratama pada cabang Geguritan, serta Latifah Zalfa Adina Putri dan Adhyastha Hasmoro A pada cabang Macapat.
Dari keikutsertaan tersebut, Ibrahim Qaiser El A berhasil meraih Juara 3 pada cabang Sesorah atau pidato bahasa Jawa. Prestasi itu menjadi capaian tersendiri bagi SMP UMP dalam upaya mendorong siswa untuk mengenal sekaligus mengembangkan kemampuan dalam bahasa dan seni daerah.
“Melalui terselenggaranya FTBI, kami berharap cakrawala pengetahuan dan seni anak-anak semakin luas. Ini bukan sekadar ajang kompetisi, melainkan ruang berkreasi yang menampilkan karya inovatif murid dengan menjunjung tinggi sportivitas, kolaborasi, dan toleransi,” ujar pelatih sekaligus pendamping tim seni SMP UMP.
Prestasi tersebut juga memperlihatkan upaya SMP UMP memadukan berbagai aspek pendidikan. Keunggulan nilai keislaman, penguasaan sains, kecakapan bilingual, dan pemanfaatan teknologi digital tetap berjalan bersama dengan pengenalan terhadap kearifan lokal.
Latihan intensif dengan dukungan sarana digital serta pendampingan karakter turut menjadi bagian dari proses persiapan siswa. Pendekatan tersebut membantu siswa membangun rasa percaya diri ketika tampil dalam kompetisi.
Capaian Ibrahim Qaiser El A sekaligus partisipasi empat siswa lainnya menunjukkan bahwa ruang pengembangan bakat dapat hadir melalui berbagai bidang. Bahasa dan seni daerah menjadi salah satu ruang bagi siswa untuk belajar, berkreasi, sekaligus mengenal budaya yang tumbuh di lingkungan mereka.
Bagi orang tua yang ingin mengembangkan potensi akademik, bakat, karakter Islami, dan kecintaan terhadap budaya pada anak, lingkungan pendidikan yang mendukung menjadi salah satu hal penting. SMP UMP terus membuka ruang bagi peserta didik untuk tumbuh melalui beragam kegiatan dan pengalaman belajar, termasuk dalam bidang seni dan budaya. (ali ikbar ramadhan)
