Merenda Budaya dalam Gerak: Ruang Setara bagi Anak Disabilitas untuk Berkarya
MALANG – Merenda Budaya dalam Gerak: Panggung Disabilitas yang Inklusif kegiatan dengan semangat kesetaraan dan inklusivitas yang digagas salah satu dosen Universitas Muhammadiyah Malang bernama Delora Jantung Amelia, M.Pd, menarik perhatian sekaligus dukungan sejumlah pejabat. Sukses tersebut hasil kolaborasi antara dirinya dengan Yayasan D’Mart Thithiek Tenger serta melibatkan mahasiswa UKM Sangsekarta Universitas Muhammadiyah Malang.

Menurut Delora, sejumlah pejabat yang hadir dalam Merenda Budaya dalam Gerak: Panggung Disabilitas yang Inklusif (30/8) 2026 di Jalan Kyai Parseh Jaya No. 29, Bumiayu, Kecamatan Kedungkandang, Kota Malang, ini, diantaranya Ketua Komisi E DPRD Provinsi Jawa Timur, Dr. Sri Untari Bisowarno, M.AP, unsur pimpinan Dinas Sosial Kota Malang, Muhammad Syailendra, ST, MM, Ketua MKKS Pendidikan Khusus, Sukahar, Ketua Presidium Jawa Timur, Khisuroso, Sekretaris Fraksi PDIP DPRD Kabupaten Malang, Redam Guruh Krismantara, SH, MH, serta Lurah Bumiayu, Mutho’ Shobirin, S.STP, M.AP.
“Kehadiran berbagai unsur tersebut memperkuat semangat kolaborasi lintas sektor dalam membangun ruang kebudayaan yang semakin ramah terhadap penyandang disabilitas,” ujar Delora.

Tujuan kegiatan ini, dijelaskan Delora menghadirkan ruang seni dan budaya yang mempertemukan anak-anak disabilitas dengan mahasiswa dalam sebuah panggung kolaboratif yang menempatkan keberagaman sebagai kekuatan dalam berkarya. Program ini menjadi bagian dari upaya menghadirkan ruang publik yang lebih inklusif sekaligus memberikan kesempatan kepada anak-anak disabilitas untuk menunjukkan potensi, kreativitas, dan kepercayaan dirinya melalui seni pertunjukan.
Panggung Merenda Budaya dalam Gerak menghadirkan anak-anak dari Sekolah Luar Biasa (SLB) di wilayah Malang Raya. Beragam bentuk ekspresi seni ditampilkan, mulai dari tari, pembacaan puisi, fashion show, karawitan, hingga menyanyi. Setiap penampilan dirancang untuk memberikan ruang yang setara bagi peserta, sehingga perbedaan kemampuan tidak menjadi batas untuk terlibat dan berkarya dalam kehidupan seni dan budaya.

Kolaborasi antara anak-anak disabilitas dan mahasiswa menjadi salah satu kekuatan utama kegiatan ini. Mahasiswa tidak hanya hadir sebagai pendamping, tetapi turut berada dalam ruang berkarya bersama anak-anak. Pertemuan tersebut menciptakan proses belajar dua arah tentang empati, kesetaraan, keberanian berekspresi, serta bagaimana sebuah pertunjukan dapat dikembangkan dengan mempertimbangkan keberagaman kemampuan setiap individu.
Kegiatan ini sejalan dengan gagasan utama program yang sejak awal diarahkan untuk menghadirkan panggung budaya inklusif di ruang publik, sehingga anak disabilitas memperoleh kesempatan nyata untuk menampilkan ekspresi seninya sekaligus meningkatkan kesadaran masyarakat mengenai inklusivitas budaya. Program juga membawa semangat perubahan cara pandang terhadap disabilitas, dari objek belas kasih menjadi subjek kreatif yang memiliki kemampuan dan kontribusi dalam kebudayaan.

Delora menyampaikan Merenda Budaya dalam Gerak tidak semata-mata dirancang sebagai sebuah pertunjukan, tetapi sebagai ruang untuk menunjukkan bahwa setiap anak memiliki kesempatan yang sama untuk hadir, diapresiasi, dan menjadi bagian dari kehidupan kebudayaan. “Melalui panggung ini, kami ingin anak-anak disabilitas hadir bukan sekadar sebagai peserta atau penonton, tetapi sebagai pelaku seni yang memiliki karya, potensi, dan ruang yang setara untuk berekspresi. Kolaborasi bersama mahasiswa juga menjadi proses belajar bahwa seni dapat mempertemukan keberagaman tanpa membedakan kemampuan,” tandas Delora.
Melalui Merenda Budaya dalam Gerak: Panggung Disabilitas yang Inklusif, seni menjadi bahasa bersama untuk merayakan keberagaman. Panggung bukan lagi sekadar tempat mempertunjukkan kemampuan, tetapi menjadi ruang pengakuan, ruang perjumpaan, dan ruang kesetaraan, tempat anak-anak disabilitas dapat menunjukkan bahwa keterbatasan tidak pernah menghilangkan hak seseorang untuk berkarya dan menjadi bagian dari kebudayaan. Kegiatan ini sekaligus memperkuat tujuan program untuk mendorong perubahan paradigma masyarakat menuju pengakuan terhadap penyandang disabilitas sebagai bagian dari keragaman ekspresi budaya serta membangun solidaritas masyarakat yang lebih inklusif. (delora)
