Tentang Bertahan di Usia Dewasa
Penulis: Nurkharimah Vielayaty, Mahasiswa semester 7 Psikologi, Universitas Muhammadiyah Malang. Artikel ini ditulis untuk memenuhi tugas mata kuliah Publikasi Akademik.
Usia dewasa sering dibayangkan sebagai fase ketika hidup mulai stabil dan terarah. Kita dianggap sudah tahu apa yang diinginkan, sudah bisa mengatur diri sendiri, dan siap menghadapi dunia dengan lebih matang. Namun kenyataannya, banyak orang justru merasa paling goyah di fase ini. Dewasa awal bukan hanya tentang tumbuh dan berkembang, tetapi juga tentang bertahan di tengah hidup yang tidak selalu ramah.
Di usia ini, hidup terasa berjalan lebih cepat dari biasanya. Ada tuntutan untuk segera menyelesaikan pendidikan, mendapatkan pekerjaan yang layak, mandiri secara finansial, dan mulai memikirkan masa depan dengan lebih serius. Di saat yang sama, kita juga dituntut untuk tetap menjaga hubungan dengan keluarga, pasangan, dan teman, sambil memastikan diri sendiri tidak tertinggal. Kadang, tanpa disadari, semua tuntutan itu menumpuk dan membuat napas terasa lebih berat.
Banyak orang menjalani hari-harinya dengan perasaan lelah yang sulit dijelaskan. Ada momen ketika seseorang bertanya dalam hati, “Bisa nggak ya aku bertahan melewati semua ini?” Lelah bukan karena kurang usaha, melainkan karena terlalu banyak yang harus dipikirkan. Ada rasa cemas tentang masa depan, rasa takut gagal, dan rasa tidak cukup baik ketika melihat orang lain seolah sudah lebih dulu sampai di tujuan hidupnya.
Media sosial sering kali memperparah keadaan. Kita melihat pencapaian orang lain setiap hari, tanpa tahu proses panjang di baliknya. Dari situlah muncul kebiasaan membandingkan diri sendiri dengan standar hidup orang lain. Pikiran seperti “Kenapa aku masih di sini?”, “Harusnya aku sudah lebih jauh”, atau “Apa aku salah ambil keputusan?” pelan-pelan menggerogoti kepercayaan diri.
Menjadi dewasa ternyata tidak selalu berarti merasa siap. Justru sering kali kita melangkah dengan penuh keraguan. Rencana hidup yang dulu terasa jelas bisa berubah arah, bahkan runtuh. Ada mimpi yang harus ditunda, ada jalan yang terasa salah, dan ada hari-hari ketika kita hanya ingin berhenti sejenak dan bertanya, “Aku harus bagaimana lagi?” Pada titik ini, banyak orang mulai meragukan dirinya sendiri.
Di sinilah makna bertahan menjadi sangat penting. Bertahan bukan berarti memaksa diri untuk selalu kuat atau berpura-pura tidak apa-apa. Bertahan adalah tentang tetap hidup dan berjalan meski hati sedang berat. Tentang mengizinkan diri merasa sedih, kecewa, dan bingung, tanpa merasa harus segera menemukan jawaban atas semuanya.
Bertahan di usia dewasa sering kali tidak terlihat besar. Kadang bentuknya sangat sederhana: bangun dari tempat tidur meski tidak bersemangat, menyelesaikan satu tanggung jawab kecil, atau memilih untuk tidak menyerah hari ini. Ada hari-hari ketika satu-satunya pencapaian adalah berhasil melewati hari itu sendiri, dan itu pun sudah cukup.
Seiring waktu, banyak orang mulai menyadari bahwa menjadi kuat tidak berarti tidak pernah jatuh. Justru kekuatan tumbuh dari keberanian untuk bangkit setelah jatuh. Dari proses mengenal batas diri, belajar meminta bantuan, dan memahami bahwa istirahat bukan tanda kelemahan. Ada kalanya kita perlu berani berkata, “Aku capek,” tanpa merasa gagal.
Usia dewasa awal juga menjadi fase belajar menerima. Menerima bahwa hidup tidak selalu sesuai rencana, bahwa setiap orang memiliki waktunya masing-masing, dan bahwa merasa tertinggal bukan berarti kalah. Mungkin kita belum sampai, tapi bukan berarti kita berhenti. Kadang, yang perlu dilakukan hanyalah mengubah cara melangkah, bukan berhenti berjalan.
Pada akhirnya, bertahan di usia dewasa bukan tentang menjadi sempurna atau selalu merasa yakin. Bertahan adalah tentang tetap melangkah, meski pelan dan penuh keraguan. Jika suatu hari kamu bertanya, “Aku kuat nggak ya?” dan tetap memilih untuk bangun keesokan harinya, itu tandanya kamu sedang bertahan.
Dan di usia dewasa, bertahan seperti itu adalah bentuk keberanian yang sering tidak terlihat. (*)
