Menyibak Jejak Kesejaterahan PRM Krangkoan
TABLOIDMATAHATI.COM, BATANG-Di balik rimbun barisan pepohonan yang mengayomi Dukuh Krangkoan, sebuah peristiwa istimewa kembali menggema: Milad Muhammadiyah ke-116. Namun tahun ini berbeda. Pada Rabu, 4 Juni 2025 atau 8 Dzulhijjah 1446 H, PRM Krangkoan, Kecamatan Limpung, Kabupaten Batang, Jawa Tengah tidak sekadar menggelar perayaan, tetapi beikhtiar menyalakan kembali obor sejarah yang sempat meredup dalam tumpukan arsip lama.
Dengan menyentuh aspek kesejarahan, peringatan ini tak hanya dirayakan dengan apel akbar, bazar UMKM, donor darah, dan pentas seni, melainkan diselingi momentum haru dengan pemutaran video dokumenter dan pembacaan naskah sejarah berdirinya PRM Krangkoan, berdasarkan arsip yang selama ini nyaris terlupakan.
Dalam dokumen yang baru-baru ini ditemukan, tercatat bahwa PRM Krangkoan bukanlah ranting biasa. Ia lahir dari denyut Kongres Cabang Muhammadiyah Pekalongan yang saat itu berpusat di Pekajangan. Tahun 1933, dalam suasana sederhana namun sarat makna, kongres tersebut digelar di Krangkoan Limpung, Batang, suatu wilayah pedesaan yang saat itu lebih dikenal sebagai pusat gerilya melawan Belanda.
Namun dari sanalah cahaya itu menyala. Keputusan kongres menetapkan berdirinya Madrasah Diniyah Muhammadiyah Krangkoan, yang kemudian menjadi fondasi terbentuknya PRM Krangkoan secara resmi. Inilah tonggak awal gerakan tajdid di tengah masyarakat yang masih kental dengan kejawen dan tradisi mistik. Para pendiri, dengan semangat luar biasa, bahkan rela berjalan kaki ke Jogja demi menghadiri pengajian KH. Ahmad Dahlan—sebuah kisah perjuangan yang terasa seperti dongeng, namun nyata.
Ketua PRM Krangkoan, H. Ekhwanudin, S.Pd, dalam sambutannya mengajak warga untuk menengok ke belakang, bukan untuk larut dalam nostalgia, tetapi agar mampu melangkah lebih teguh. Sejarah bukan hanya kisah masa lalu, tetapi kompas untuk masa depan. Muhammadiyah hadir di Krangkoan bukan karena kebetulan, melainkan karena kesungguhan para pendahulu yang ingin Islam dipelajari, diamalkan dan disebarkan.
Madrasah Diniyah yang berdiri secara administratif pada 15 September 1938 menjadi saksi bisu geliat pendidikan Islam di desa kecil ini. Meski sempat ditutup akibat agresi militer Belanda pada 1947–1949, semangat itu tak padam. Madrasah kembali hidup dan bertransformasi menjadi MIM Krangkoan yang hingga kini tetap berdiri kokoh, menjadi tempat anak-anak Krangkoan belajar Islam dan mengenal persyarikatan Muhammadiyah.
Peran perempuan pun tak luput dalam catatan sejarah. Pada tahun 1962, madrasah ini dipimpin oleh Ibu Maesaroh, tokoh Aisyiyah kala itu, menunjukkan bahwa sejak awal, Muhammadiyah telah memberi ruang kepemimpinan bagi kaum perempuan di bidang pendidikan.
Melalui Milad kali ini, benang sejarah itu mulai dijahitkan kembali agar ruh perjuangan tak putus di tengah jalan.
Milad Muhammadiyah ke-116 di Krangkoan menjadi perayaan yang mengandung makna kebangkitan kesadaran sejarah, penguatan identitas, dan pembaruan semangat dakwah. Sebab di tempat yang sederhana ini, sejarah besar pernah tertoreh dengan indah.
Krangkoan bukan hanya saksi, tetapi pelaku dalam gerak langkah Muhammadiyah di Batang. Di desa kecil ini, cahaya peradaban itu masih menyala dan semoga terus menyala, selama generasi hari ini tak melupakan dari mana mereka berasal. (kawe samudra/rilis grup media afiliasimu)
